Ironi. Mungkin itulah kesan yang timbul melihat pencapaian apik yang dibukukan Liverpool di kompetisi Liga Premier musim 2008-09. Kemenangan 3-1 (1-0) saat menjamu Tottenham Hotspur di Anfield Stadium, Minggu (24/5), membuat The Reds menoreh rekor baru tampil tak terkalahkan saat bertanding di kandang sendiri dalam 21 musim kiprahnya di kompetisi tertinggi di persepakbolaan Inggris.
Sejak ditangani Rafael Benitez yang datang ke Liverpool pada 16 Juni 2004 menggantikan Gerard Houlier, Liverpool memang menunjukkan grafik penampilan kandang (home) yang membaik. Setelah tiga kali kalah di musim 2004-05, Liverpool berhasil mereduksi jumlah kekalahan di Anfield menjadi hanya satu kali di tiga musim berikutnya. Puncaknya, ya di musim ini.
Rekor lain yang pantas menjadi alasan untuk mengapresiasi kinerja Benitez dan pasukannya adalah jumlah poin yang dikumpulkan Liverpool di akhir musim. Sejak kompetisi berubah format menjadi premiership, raihan di musim ini, 86 poin dari 38 partai adalah yang tertinggi.
Sebelumnya, di bawah arahan Benitez, prestasi terbaik dalam soal pendapatan poin terjadi di musim 2005-06. Ketika itu The Reds mengumpulkan 82 poin atau hanya tertinggal satu poin dari Manchester United yang menduduki posisi runner-up.
Yang juga jadi kredit tersendiri melihat performa Gerrard dkk adalah jumlah kemenangan saat mereka menyambangi kandang lawan (away). Setelah sempat menoreh 10 kali kemenangan tandang di musim 2005-06, di musim ini Liverpool berhasil meraih rekor baru: 13 kali pulang dari kandang lawan dengan petikan tiga poin maksimal.
Nah, semua catatan apik tersebut menjadi tidak berarti ketika di akhir musim Liverpool tetap harus gigit jari, hanya menempati peringkat kedua klasemen, terpaut empat poin dari sang juara, MU. Sejak era premiership, baru kali ini ada tim yang hanya menuai dua kali kekalahan sepanjang musim tapi gagal duduk di singgasana klasemen akhir alias kandas meraih trofi.
Ironi di balik rekor ciamik Liverpool di musim ini kian kentara setelah mengamati lebih detail performa tim saat bermain di Anfield. Meskipun mampu tak terkalahkan, Liverpool harus membayar mahal nasib buruk (hanya bermain imbang) saat menjamu Stoke City, Fulham, West Ham United, Hull City, Everton, Manchester City, dan Arsenal. Andaikata dari tujuh laga tersebut, dua di antaranya berhasil dikonversi menjadi kemenangan, maka bukan Sir Alex Ferguson yang senyum sumringah, melainkan Benitez!
Topics: liverpool